PENDIDIKAN PROFETIK BAGI PEMUDA INDONESIA

oleh : Alvian RamadhaniImage

Tanpa terasa, hampir 68 tahun bangsa ini melakukan perjalanan dalam mengisi kemerdekaan sejak dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Waktu yang tentu saja tidak sebentar untuk menata sebuah bangsa menuju pada kondisi yang sudah dicita-citakan. Dan, sedikit menengok kebelakang, perjuangan bangsa ini mencapai kemerdekaan senantiasa diawali oleh gerakan para pemudanya.

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, pemuda ibarat jam 12 siang ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik, dibandingkan dengan orang tua dan anak-anak. Kekuatan fisik ini didukung dengan karakter khas yang spesifik yaitu, revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas dan idealisme. Inilah yang membuat pemuda senantiasa mampu membuat perubahan-perubahan besar.

Perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan telah memunculkan banyak pahlawan dari golongan muda. Tradisi ini semestinya dilanjutkan di masa-masa sekarang. Di mana perjuangan mengisi kemerdekaan membutuhkan idealisme, optimisme, pikiran maju, gagasan besar, dan tenaga anak muda untuk mengusungnya.

Pemuda Indonesia sekarang harus memiliki karakter sebagai modalitas gerakan dalam mengisi kemerdekaan. Masa sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan menuntut adanya perjuangan hanya saja bentuk perjuangannya berbeda antara masa dulu dan sekarang. Namun, yang senantiasa tidak membedakan adalah pemuda sebagai motor gerakannya.

Namun, masalah moralitas, seks bebas, tawuran dan  narkoba pelakunya didominasi oleh pemuda. Peran pendidikan amatlah penting dalam menempa pemuda agar kembali pada fitrahnya. Namun, pendidikan seperti apa yang tepat untuk membentuk karakter pemuda Indonesia?  

Pendidikan profetik atau pendidikan kenabian adalah solusi dari krisis karakter pemuda di Indonesia. Pilar pendidikan profetik yaitu, humanisasi, liberasi dan transendensi.Pendidikan profetik tidak memisahkan anatara nalar akal dengan nalar wahyu, karena spirit utamanya adalah transendensi. Ini yang membedakan dengan konsep pendidikan karakter yang lain.

Tiga pilar pendidikan karakter mempunya penjabaran sebagai berikut. Humanisasi adalah proses memanusiakan manusia. Yaitu proses manghilangkan manusia dari penghambaan kepada benda. Karena hakekat penghambaan manusia adalah kepada Sang Pencipta. Manusia harus kembali pada orientasi penciptaannya di dunia, seperti yang tertulis dalam Al-Quran surat Adz-Dzariat:56 “Tiada ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada Allah SWT”

Liberasi adalah proses menempatkan diri bukan pada lapangan moralitas abstrak, tapi pada realitas kemanuasiaan kongkret. Pendidikan seyogianya semakin didekatkan dengan realitas kehidupan sosial sosial. Mamahamkan manusia kepada peran-peran keberadaannya di dunia. Dalam Al-Quran disebutkan dalam surat Ali-Imran:110 “ Kalian adalah umat terbaik yang diturunkan atas manusia dan menyeru kepada yang ma’ruf serta mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah….”.   

Transendensi adalah muara dari kedua pilar di atas. Di mana nilai-nilai ketuhanan di tempatkan pada tempat tertinggi dengan menjadi muara dan sumber inspirasi dari pendidikan. Inilah proses mengarahkan manusia pada tujuan yang semestinya.

 Mengingat kondisi pemuda pada saat ini sedang mengalami krisis karakter yang mengakibatkan pemuda Indonesia miskin gagagsan, malas, pesimis, dan pragmatis. Pendidikan profetik akan mampu menjadi solusi dalam memecahkan krisis karakter yang terjadi dalam diri pemuda.  

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s