Ujian Nasional: Simalakama Pendidikan Indonesia

ImageOleh : Alvian Ramadhani

            Pendidikan Indonesia telah turun menurun menggunakan system evaluasi yang besrifat centralistik. Dari yang awalnya disebut Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS), sampai dengan Ujian Akhir Nasional (UAN). Sistem ini menggunakan standarisasi tingkat nasional, dengan standar minimal nilai sebagai bentuk evaluasi hasil belajar siswa. Siswa dinyatakan lulus apabila mendapatkan nilai sama atau lebih dari nilai yang ditetapkan sebagai standar kelulusan minimal.

Sistem evaluasi pendidikan nasional yang sekarang kita sebut Ujian Akhir Nasional (UAN) ini menjadi simalakama, khususnya bagi penyelenggaraan pendidikan formal. Kepentingan pemerintah pusat untuk dapat mengukur seberapa jauh kualitas pendidikan menjadikan pemerintah daerah berlomba-lomba untuk mengejar gelar sebagai daerah terbaik, yaitu dengan presentase tingkat kelulusan terbesar dan dengan presentase nilai lulusan tertinggi. Ini kemudian menjadi pemicu sekolah sebagai institusi pendidikan formal terkecil untuk memacu predikat kelulusan dan presentase jumlah dan nilai tinggi untuk mendapatkan gelar sekolah unggulan.

            Dilihat sepintas dari tinjauan di atas, UAN seolah tidak bermasalah. Justru dapat memacu pemerintah daerah dan sekolah untuk terus meningkatkan kualitas “presentase jumlah kelulusan dan nilai kelulusan”. Namun, dalam prakteknya UAN justru memicu praktek pendidikan yang tidak sehat. Targetan kuantitatif yang lebih ditekankan dalam UAN mengabaikan target kualitatif yang semestinya jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan. Kongkalikong antara guru dan pengawas, jual beli soal dan jawaban bocoran, dan contek masal kerap kali menghiasi proses penyelenggaraan UAN demi mendapatkan predikat LULUS. Alangkah miris manakala pendidikan hanya menjadi lomba kejar-kejaran angka.

            UAN adalah buah simalakama dalam proses penyelenggaraan pendidikan nasional. Salah satu muara penting dari proses penyelenggaraan pendidikan, yaitu karakter tidak lagi menjadi fokus dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Tambahan jam pelajaran untuk mata pelajaran yang UAN kan menjadi salah satu cara yang sering dilakukan pihak sekolah untuk menekan jumlah siswa yang tidak lulus. Hal ini jelas menyita ruang aktifitas siswa dalam mengembangkan bakat dan minat, sosialisasi dengan teman sebaya dan masyarakat.

            UAN juga sudah mempersempit paradigma masyarakat mengenai pendidikan. Masyarakat “orang tua” menjadikan nilai-niai ujian sekolah menjadi alat ukur untuk mengatakan seorang anak pintar atau tidak. Pergeseran paradigma ini mengakibatkan pendidikan hanya dipandang menjadi tanggung jawab sekolah saja. Karena pendidikan hanya dimaknai sebagai mata pelajaran atau materi-materi yang disampaikan seperti di sekolah saja. Hal ini muncul karena adanya beban mata pelajaran berlebih saat disekolah yang harus juga diselesaikan seorang siswa saat mereka berada di rumah.

            UAN telah membawa dominasi pendidikan formal dalam sistem pendidikan nasional. Peran keluarga dan masyarakat sebagai lingkungan belajar terkikis oleh beban-beban mata sekolah yang banyak, apalagi untuk siswa yang akan menghadapi UAN. Pengikisan peran keluarga keluarga dan masyarakat membuat pincang pendidikan nasional. Gejala-gejala pincangnya pendidikan sudah nampak dari lepas tanggannya keluarga dan masyarakat untuk juga bertanggung jawab membentuk lingkungan belajar yang baik.

            Mari kita renungkan bersama, apakah buah simalakama yang kita sebut “UJIAN AKHIR NASIONAL” ini akan kita makan?

 

    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s