MUHAMMAD AL FATIH “Penahlukan Konstantinopel”…. 1

“Sungguh Konstantinopel akan ditahlukkan. Sebaik-sebaik pemimpin adalah penahluknya dan sebaik-sebaik pasukan adalah pasukannya”. (HR. Ahmad).

Sudah kira-kira 800 tahun lamanya, mimpi penahlukan Konstantinopel tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran kitab hadist. Sekitar 11 kali percobaan telah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar, salah satunya Abu Ayub Al – Anshari yg makamnya ditemukan di dekat benteng Konstantinopel. Namun, sosok Sultan Ustsmany (Dinasti Ustmaniyah) yang digelari Muhammad Al Fatih yg pada waktu itu berusia 25 tahun yg mampu mewujudkannya sejarah besar penahlukan Konstantinopel.

Konstantinopel adalah kota yang dikelilingi perairan laut di ketiga arahnya : Teluk Bosporus, Laut Marmara dan Teluk Tanduk Emas yang terlindungi rangkaian rantai besi yang sangat besar, sehingga dapat menahan kapal yang akan masuk ke kota tersebut. Kota yang berbentuk segitiga ini, dua sisinya dikelilingi laut dan sisi yang ketiga diliputi dua lapis pagar dan parit. Pagar pertama tingginya 25 kaki dan tebalnya 10 meter, pagar kedua tingginya 40 kaki dengan tebal 15 meter dan dilengkapi dengan beberapa menara yang masing-masing tingginya 60 kaki. Sementara lebar paritnya 60 kaki dengan kedalamannya 10 meter. Dari arah laut, kota ini juga dijaga oleh 400 kapal. Dari sudut pandang militer, kota itu adalah kota yang terbaik pertahanannya.

Bersama 250 ribu prajurit dan armada yang membawa meriam bergerak dari Ardema menuju Konstantinopel. Setelah 2 bulan pasukan pun tiba di Konstantinopel, tepat pada hari Kamis, 26 Rabi’ul Awwal 857 H/6 April 1453 M.

Pada hari berikutnya, Muhammad Al Fatih mulai membagi pasukan daratnya di depan pagar luar kota Konstantinopel. Al Fatih juga menyiapkan pasukan alternarif untuk berjaga di belakang pasukan utama dan memasang meriam-meriam di depan pagar-pagar, dan salah satu meriam yang paling fenomenal adalah meriam raksasa (Meriam Sultan yang dibuat oleh Ourban) yang dipasang di depan pintu Thop Kapi. Pada saat yang sama, armada laut ustmani juga tersebar diperairan yang mengelilingi kota, hanya saja mereka tidak berhasil mencapai Teluk Tanduk Emas karena ada rantai besar yang menghalangi kapal untuk masuk. Namun, armada laut ustmani mampu menguasai pulau-pulau yang ada di Laut Marmara.

Pasukan Byzantium tak tinggal diam. Mereka mendistribusi pasukan di atas pagar benteng dan memperkuat penjagaan.  Pasukan Byzantium juga mendapatkan bantuan dari salibis.

Meriam-meriam ustmani mulai ditembakkan dan berhasil menghancurkan beberapa pagar yang mengelilingi kota. Pasukan laut ustmani berusaha melewati ranrai-rantai, namun gagal. Namun, pasukan ustmani yang dipimpin langsung oleh Muhammad Al Fatih tetap bertahan mengepung kota. Sementara Pasukan Byzantium yang dipimpin Constantin tetap melakukan perlawanan untuk melindungi kota, sembari terus menerus memberikan tawaran kepada Muhammad Al Fatih agar menarik mundur pasukannya dengan imbalan harta, ketertundukan dan tawaran lainnya. Namun, Muhammad Al Fatih menolak. Beliau memberikan tawaran agar kota Konstantinopel diserahkan dan dengan begitu beliau berjanji tidak akan mengganggu penduduk dan gereja-gerejanya.

Ini salah satu surat yang dikirim oleh Muhammad Al Fatih, “Maka hendaknya kekaisaran Anda menyerahkan Kota Konstantinopel kepadaku, dan saya bersumpah bahwa pasukan saya tidak akan mengganggu seorang pun dari penduduk kota ini, baik jiwa, harta dan kehormatannya. Dan, siapa yang tetap mau tinggal dan mau tinggal di kota tersebut, maka ia akan aman dan selamat. Dan siapa yang ingin meninggalkan kemana saja ia mau, maka ia juga akan aman dan selamat”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s